BATIK CIPRAT “KINASIH” HASIL KARYA KAWAN DISABILITAS YANG BERNILAI EKONOMIS

Batik merupakan salah satu karya seni yang menjadi ciri khas Indonesia. Terdapat berbagai macam batik, salah satunya batik ciprat yang diproduksi oleh Rumah Kinasih. Berawal dari kepedulian terhadap seorang teman penyandang disabilitas yang kurang mendapatkan dukungan dari keluarga dan lingkungan, pendiri Rumah Kinasih merasa memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitar.

“Ini adalah tempat untuk mereka melanjutkan hidup. Harapannya masyarakat dapat mengakui dan mendapat tempat khusus di masyarakat.” Ujar Pendiri Rumah Kinasih.

Pengrajin Batik Ciprat Kinasih merupakan penyandang disabilitas dari berbagai latar belakang budaya, pendidikan, dan ekonomi. Mereka berusia 16-54 tahun dengan kategori disabilitas mental, intelektual, sensorik dan fisik. Tidak hanya berasal dari Kecamatan Kesamben saja, melainkan dari luar Kabupaten Blitar hingga luar Pulau Jawa yang dirawat dan menjadi pengrajin di Rumah Kinasih.

Batik metode ciprat yang hanya memiliki satu motif khas berlainan dengan motif yang lain. Kekhasan produk ini merupakan hasil karya yang 80% proses produksinya dilakukan oleh penyandang disabilitas. Motif batik tersebut tercipta sebagai bentuk perilisan emosi, dan 20% proses produksinya dibantu oleh pendamping meliputi kesesuaian warna dan finishing.

Proses pembuatan Batik Ciprat Rumah Kinasih sama seperti batik ciprat pada umumnya. Setelah menentukan jenis kain yang akan diproduksi, kain tersebut dibentangkan dan diikat pada media bentang. Kain diciprat menggunakan kuas dan sapu lidi dengan malam yang sudah dipanaskan untuk membuat motif batik. Adapun proses pewarnaan menggunakan alat oles yang terbuat dari busa dan bambu. Selanjutnya kain direbus dengan waterglass yang berfungsi untuk mengunci warna batik. Kemudian kain dicuci dan dijemur di tempat yang tidak terlalu terik dengan suhu sedang. Proses tersebut dapat diulangi kembali sesuai motif yang akan diproduksi.

Untuk ukuran standar, jika cuacanya bagus dalam satu hari Rumah Kinasih dapat memproduksi sebanyak 30 lembar kain batik. Kain Batik Ciprat yang sudah jadi siap dipasarkan atau diproduksi kembali untuk menjadi produk siap pakai berupa pakaian, tas, songkok, dan lainnya. Harga yang ditawarkan cukup variatif. Satu lembar kain batik dengan ukuran panjang 115 cm dan lebar 205 cm dipasarkan dengan harga mulai dari Rp 180.000,- hingga Rp 750.000,- bergantung pada jenis kain dan kerumitan motifnya. Adapun jenis kain yang digunakan, yaitu Katun Primisima, Prisma, Katun Jepang, Kain Sutera, dan Sutera Super.

Pemasaran produk Batik Ciprat Kinasih tidak hanya di wilayah Kabupaten Blitar, melainkan sudah merambah kancah Internasional seperti Amerika Serikat, New Zealand, Singapura,Dubai, Hongkong, dan Malaysia melalui pameran maupun penggunaan pribadi. Untuk melihat proses dan hasil produksi batik ciprat, Rumah Kinasih buka dari hari Senin-Sabtu pukul 08.00-14.00 WIB. Setiap harinya kegiatan dimulai dengan senam pagi, produksi, ishoma dan dilanjutkan kegiatan lain. Rumah Kinasih berlokasi di Dusun Brongkos, Desa Siraman, Kecamatan Kesamben.

About Admin Website

Check Also

Renja tahun 2025

[embeddoc url=”https://kec-kesamben.blitarkab.go.id/wp-content/uploads/2025/03/Renja-Kec.-kesamben-Tahun-2025_compressed.pdf”]